Sejarah profesi dokter di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari peran media massa, terutama Radio Republik Indonesia (RRI). Sejak masa revolusi hingga era pembangunan, radio menjadi alat utama bagi para dokter untuk menyebarkan informasi kesehatan masyarakat ke seluruh pelosok Nusantara.
Pada masa awal kemerdekaan, akses terhadap pelayanan medis sangat terbatas. Para dokter pejuang menggunakan frekuensi RRI untuk memberikan instruksi medis dasar, cara penanganan luka, hingga pencegahan wabah penyakit menular di daerah-daerah konflik di mana tenaga medis tidak dapat menjangkau secara langsung.
Memasuki era 1950-an, program kesehatan di RRI semakin terstruktur. Acara seperti "Siaran Kesehatan Masyarakat" menjadi favorit pendengar. Dokter-dokter terkemuka pada masa itu secara rutin hadir di studio RRI Jakarta (sekarang RRI Pro 1) untuk menjawab surat-surat pertanyaan dari rakyat, menjadikannya bentuk Telemedicine paling awal di Indonesia.
Kerja sama antara IDI dan RRI ini membuktikan bahwa dedikasi seorang dokter melampaui ruang praktik. Suara mereka di udara menjadi bukti nyata pengabdian tanpa batas ruang dan waktu.